Memahami Dwelling Time: Kunci Efisiensi Pelabuhan Indonesia

Memahami Dwelling Time Kunci Efisiensi Pelabuhan Indonesia

Memahami Dwelling Time – INDONESIA merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan 62% luas wilayahnya berupa laut dan perairan. Letak geografis Indonesia sangat strategis karena berada di jalur perdagangan global yang memberikan banyak keuntungan terutama di bidang ekonomi. Kondisi ini menjadikan peran transportasi laut bagi Indonesia sangat vital. Salah satu cara untuk menciptakan transportasi laut yang baik dan unggul adalah dengan memperbaiki pelayanan yang ada pada pelabuhan.

Pentingnya Pelabuhan dalam Rantai Distribusi

Pelabuhan adalah infrastruktur transportasi laut yang berperan dalam mata rantai distribusi barang dan penumpang. Salah satu parameter yang dijadikan acuan dalam menilai performa pelayanan pelabuhan adalah dwelling time. Dwelling time merupakan waktu yang dihitung mulai dari suatu peti kemas (kontainer) dibongkar muat dan diangkat (unloading) dari kapal sampai peti kemas tersebut meninggalkan terminal pelabuhan melalui pintu utama.

Definisi Dwelling Time

Menurut World Bank (2011), dwelling time adalah waktu yang dibutuhkan sejak barang turun dari kapal atau barang ditimbun sampai barang keluar dari pelabuhan. Definisi ini juga didukung oleh Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean Tanjung Emas, yang menjelaskan dwelling time sebagai proses yang dibutuhkan sejak barang turun dari kapal atau barang ditimbun sampai barang keluar dari pelabuhan.

Menurut Manalytics (dalam Merckx, 2005), dwelling time adalah waktu rata-rata sebuah peti kemas berada di terminal pelabuhan dan menunggu aktivitas selanjutnya berlangsung. Nicoll (2007) mendefinisikan dwelling time sebagai lama waktu peti kemas berada di pelabuhan sebelum memulai perjalanan darat baik menggunakan truk atau kereta api.

Tahapan Utama Dwelling Time

Merujuk pada SE-04/BC/2017, dwelling time mencakup tiga tahapan utama dalam rangkaian prosesnya:

  1. Pre-Customs Clearance: Waktu yang diperlukan sejak peti kemas dibongkar dari kapal sampai dengan pemberitahuan pabean impor mendapatkan nomor pendaftaran.
  2. Customs Clearance: Waktu yang dibutuhkan sejak pemberitahuan pabean impor mendapatkan nomor pendaftaran sampai dengan diterbitkannya persetujuan pengeluaran barang oleh bea cukai.
  3. Post-Customs Clearance: Waktu yang dibutuhkan sejak persetujuan pengeluaran barang sampai dengan pengeluaran barang impor dari tempat penimbunan sementara.
Baca Juga:  Apa Itu PPN Impor: Panduan Lengkap tentang Pajak Pertambahan Nilai untuk Barang Impor

Mengapa Mengurangi Dwelling Time Itu Penting?

Mengurangi dwelling time sangat penting untuk meningkatkan efisiensi operasional pelabuhan dan daya saing ekonomi nasional. Dwelling time yang terlalu lama dapat menyebabkan:

  1. Biaya Tambahan: Penyimpanan barang dalam waktu yang lama di pelabuhan akan menambah biaya logistik, termasuk biaya sewa gudang dan biaya demurrage.
  2. Keterlambatan Distribusi: Keterlambatan dalam proses dwelling dapat mempengaruhi rantai pasok, yang pada akhirnya berdampak pada keterlambatan pengiriman barang ke konsumen akhir.
  3. Kapasitas Pelabuhan Terbatas: Dengan waktu dwelling yang lama, kapasitas penyimpanan pelabuhan akan cepat penuh, mengurangi kemampuan pelabuhan untuk menangani lebih banyak kargo.

Baca Juga: Apa Itu Dwelling Time: Implikasi, Optimalisasi dan Hubungannya dengan Bea Cukai

Strategi untuk Mengurangi Dwelling Time

Untuk mengurangi dwelling time, beberapa strategi yang dapat diterapkan antara lain:

  1. Penyederhanaan Proses Bea Cukai: Implementasi sistem bea cukai elektronik (e-Customs) dapat mempercepat proses clearance dan mengurangi birokrasi.
  2. Peningkatan Infrastruktur Pelabuhan: Investasi dalam fasilitas pelabuhan seperti crane otomatis, gudang modern, dan jalur distribusi yang efisien dapat mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk memindahkan barang.
  3. Manajemen Arus Kargo yang Lebih Baik: Pengaturan jadwal kedatangan dan keberangkatan kapal yang lebih baik serta penggunaan teknologi informasi untuk pelacakan kargo dapat mengurangi bottleneck.
  4. Kerjasama Antar Pemangku Kepentingan: Kolaborasi antara pihak pelabuhan, pemerintah, perusahaan logistik, dan importir/eksportir dapat meningkatkan koordinasi dan efisiensi proses.

Studi Kasus: Pelabuhan Tanjung Priok

Pelabuhan Tanjung Priok sebagai pelabuhan terbesar di Indonesia telah menerapkan beberapa langkah untuk mengurangi dwelling time. Langkah-langkah tersebut antara lain:

  1. Implementasi Sistem Inaportnet: Sistem ini memungkinkan integrasi berbagai layanan pelabuhan secara online, sehingga mempercepat proses administrasi dan clearance.
  2. Pembangunan Infrastruktur: Penambahan kapasitas gudang dan peralatan bongkar muat yang lebih modern telah membantu mengurangi waktu dwelling.
  3. Pelatihan Tenaga Kerja: Pelatihan dan peningkatan kompetensi tenaga kerja pelabuhan untuk meningkatkan efisiensi dan kecepatan kerja.

Kesimpulan

Mengurangi dwelling time di pelabuhan merupakan tantangan yang kompleks namun sangat penting untuk meningkatkan efisiensi logistik dan daya saing ekonomi. Dengan implementasi strategi yang tepat, seperti penyederhanaan proses bea cukai, peningkatan infrastruktur, dan manajemen arus kargo yang lebih baik, dwelling time dapat dikurangi secara signifikan. Pelabuhan Tanjung Priok telah menunjukkan contoh keberhasilan dalam mengimplementasikan langkah-langkah tersebut, yang dapat dijadikan acuan bagi pelabuhan lain di Indonesia.

Baca Juga:  Pedoman Pelaksanaan Detasering Bea Cukai Sesuai PER-11/BC/2022

Demikian pembahasan mengenai Memahami Dwelling Time: Kunci Efisiensi Pelabuhan Indonesia. Untuk informasi tentang Bea Cukai Indonesia silahkan kunjungi website bea cukai disini.

Kumpulan konsultasi bea cukai disini.

Topik: memahami dwelling time, pelabuhan Indonesia, transportasi laut, efisiensi pelabuhan, bea cukai, logistik, distribusi barang, infrastruktur pelabuhan, Tanjung Priok, rantai pasok

Scroll to Top