Memahami Tiga Jenis Pungutan dalam Setiap Batang Rokok di Indonesia

Memahami Tiga Jenis Pungutan dalam Setiap Batang Rokok di Indonesia

Industri rokok di Indonesia adalah salah satu sektor penting yang memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan negara. Dalam satu batang rokok, setidaknya terdapat tiga jenis pungutan utama, yaitu cukai, pajak rokok, dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Artikel ini akan membahas secara rinci mengenai ketiga jenis pungutan tersebut, serta dasar hukum yang mengaturnya.

Hasil Tembakau dalam Konteks Perpajakan

Rokok termasuk dalam kategori hasil tembakau, yang pengertiannya diatur dalam Undang-Undang Cukai dan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 63/PMK.03/2022 tentang PPN atas Penyerahan Hasil Tembakau. Menurut Pasal 1 angka 5 PMK 63/2022, hasil tembakau meliputi sigaret, cerutu, rokok daun, tembakau iris, rokok elektrik, dan hasil pengolahan tembakau lainnya, tanpa memperhatikan apakah digunakan bahan pengganti atau bahan pembantu dalam pembuatannya.

Cukai Rokok

Pengertian Cukai

Cukai adalah pungutan negara yang dikenakan terhadap barang-barang tertentu yang memiliki sifat atau karakteristik khusus, seperti hasil tembakau. Cukai dikenakan berdasarkan harga jual eceran (HJE) rokok.

Jenis Tarif Cukai

  1. Tarif Spesifik: Tarif berupa jumlah dalam rupiah untuk setiap batang atau gram hasil tembakau. Tarif ini dikenakan pada rokok konvensional.
  2. Tarif Ad Valorem: Tarif berupa persentase dari harga dasar. Tarif ini dikenakan pada hasil pengolahan tembakau lainnya, termasuk rokok elektrik. Pemungutan cukai rokok merupakan wewenang pemerintah pusat.

Pajak Rokok

Definisi Pajak Rokok

Pajak rokok adalah pungutan yang dikenakan atas konsumsi rokok oleh pemerintah provinsi. Pajak ini dipungut bersamaan dengan cukai rokok oleh Ditjen Bea dan Cukai (DJBC).

Tarif Pajak Rokok

Tarif pajak rokok ditetapkan sebesar 10% dari cukai rokok. Pajak ini dikenakan atas konsumsi berbagai jenis rokok, termasuk sigaret, cerutu, rokok daun, dan rokok elektrik.

Baca Juga: Dampak Positif Kebijakan Tarif Cukai Rokok Multiyears 2023-2024

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

Pengenaan PPN pada Rokok

PPN adalah pajak atas konsumsi barang dan jasa yang dikenakan di setiap jalur produksi dan distribusi. PPN atas hasil tembakau dihitung berdasarkan dasar pengenaan pajak (DPP) nilai lain, yang ditetapkan menggunakan formula 100/(100 + tarif PPN yang berlaku) dikali HJE Hasil Tembakau.

Baca Juga:  Merek Rokok Elektrik dan Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya Sesuai PER-17/BC/2022

Tarif PPN Efektif

  • 9,9% dari HJE Hasil Tembakau: Berlaku sejak 1 April 2022 dengan tarif PPN 11%.
  • 10,7% dari HJE Hasil Tembakau: Akan berlaku pada saat tarif PPN 12% diberlakukan.

Kesimpulan

Setiap batang rokok di Indonesia dikenakan tiga jenis pungutan utama: cukai, pajak rokok, dan PPN. Pungutan ini tidak hanya berfungsi sebagai sumber pendapatan negara, tetapi juga sebagai alat untuk mengendalikan konsumsi rokok demi kesehatan masyarakat. Dengan memahami struktur pungutan ini, baik konsumen maupun pelaku industri dapat lebih menyadari kontribusi finansial dari setiap batang rokok yang dikonsumsi dan dampaknya terhadap harga jual rokok di pasaran.

Untuk informasi tentang Bea Cukai Indonesia silahkan kunjungi website bea cukai disini.

Kumpulan konsultasi bea cukai disini.

Topik: cukai rokok, pajak rokok, PPN rokok, hasil tembakau, perpajakan rokok, cukai hasil tembakau, tarif cukai rokok, pajak pertambahan nilai, industri rokok, regulasi rokok, undang-undang cukai, PMK 63/2022

Scroll to Top